PENGERTIAN PSIKOLOGI KOMUNIKASI DAN RUANG LINGKUPNYA
Sebagai makhluk sosial, manusia tidak bisa tidak berkomunikasi. Komunikasi adalah hal terbesar yang dilakukan manusia dalam kehidupannya. Baik komunikasi dengan diri sendiri hingga komunikasi melalui media. Terlebih di zaman sekarang, dimana teknologi komunikasi berkembang dengan pesatnya. Komunikasi menjadi tanpa batas, tanpa sekat, dan semua orang bisa terlibat di dalamnya. Hal ini menunjukkan bahwa komunikasi memang sangat penting dalam kehidupan manusia dalam rangka menumbuhkembangkan kepribadian manusia itu sendiri. Berbicara mengenai komunikasi tidak akan pernah terlepas dari perilaku serta pengalaman kesadaran manusia. Sejarah panjang penelitian fenomena komunikasi memperlihatkan keterkaitan yang erat antara psikologi dan komunikasi. Tidak sedikit ahli psikologi aliran behaviorisme yang menelaah komunikasi lebih dalam.
Lalu, apakah komunikasi itu? Komunikasi merujuk pada terjadinya suatu proses yang dilakukan oleh manusia dalam rangka memberikan respon terhadap perilaku ataupun perlambang yang dilakukan oleh manusia lainnya. Komunikasi yang dilakukan bertujuan agar terjadi pengertian bersama. Hal ini sesuai dengan asal kata komunikasi itu sendiri yaitu “communication” atau “communis” yang berarti sama, yaitu sama dalam hal makna.
Dalam kacamata psikologi, komunikasi dipandang sebagai perilaku. Baik itu bersifat manusiawi, menarik, serta melibatkan banyak orang di berbagai situasi. Psikologi secara tajam mengupas “diri” kita sebagai pelaku komunikasi dan komponen komunikasi lainnya. Penyatuan keduanya melahirkan psikologi komunikasi yang berusaha untuk memahami, menjelaskan, dan memprediksi bagaimana pikiran, perasaan, dan tindakan manusia dipengaruhi oleh manusia lainnya.
Pengertian Komunikasi Menurut Para Ahli
Komunikasi begitu vital dalam kehidupan manusia. Untuk itu, cendekiawan ataupun para ahli dari berbagai latar belakang keilmuan tertarik untuk melakukan penelitan mengenai komunikasi. Sebagian besar para ahli yang meneliti komunikasi merupakan sarjana psikologi, sosiologi serta filsafat. Dari berbagai penelitan yang telah mereka lakukan, lahirlah berbagai macam pengertian komunikasi seperti yang kita kenal sekarang ini.
Berikut adalah beberapa pengertian komunikasi dari para ahli (Rakhmat, 2001 : 3 – 10) :
1.Hovland, Janis dan Kelly (1953): “Communication is the process by which an individual (the communicator) transmit stimuli (usually verbal) to modify the behavior of other individuals (the audience)”. Disini dimaksudkan bahwa komunikasi sejatinya adalah proses seseorang yang bertindak sebagai komunikator mengirimkan stimuli atau respon berupa verbal untuk mempengaruhi kepribadian atay sikap seseorang yang bertindak sebagai komunikan.
2. Dance (1970): Komunikasi adalah usaha menimbulkan respons melalui lambang-lambang verbal.
3. Raymond S. Ross (1974): “Communication is a transactional process involving cognitive sorting, selecting, and sharing of symbol in such a way to help another elicit from his own experiences a meaning or responses similar to that intended by the source”. Raymond beranggapan bahwa komunikasi sebuah proses transaksional yang mencakup kegiatan menyeleksi, memilih, dan membagikan makna. Makna – makna tersebut bisa berasal dari pengalaman sendiri, ataupun beberapa sumber lain.
4. Colin Cherry (1964): Komunikasi adalah usaha untuk membuat satuan sosial dari individu dengan menggunakan bahasa atau tanda. Dan juga memiliki serangkaian peraturan untuk berbagai kegiatan mencapai tujuan.
5. Harnack dan Fest (1964): Komunikasi adalah suatu proses interaksi diantara orang-orang untuk tujuan integrasi intrapersonal dan interpersonal.
6. Edwin Neuman (1948): Komunikasi adalah proses untuk mengubah kelompok manusia menjadi kelompok yang berfungsi.
7. Joseph A. Devito: Komunikasi seperti disadur dalam Efendi (1984:7), adalah sebuah tindakan oleh satu orang atau lebih yang mengirimkan dan menerima pesan dengan situasi tertentu. Lalu menghasilkan dampak dan kesempatan untuk menerima pesan. Tindakan komunikasi mencakup beberapa komponen yaitu, situasi, pengirim, penerima, media, hambatan, penerimaan, pemahaman, respon, dan efek.
Definisi atau pengertian komunikasi yang dinyatakan oleh para ahli pun sangat beragam karena dilatarbelakangi oleh kelimuan yang dimiliki. Hampir tidak ada definisi atau pengertian komunikasi yang benar-benar pakem atau komprehensif. Keberagaman definisi atau pengertian komunikasi yang dinyatakan oleh para ahli tersebut menunjukkan bahwa komunikasi adalah konsep yang kaya makna.
Dari berbagai pengertian komunikasi yang dinyatakan oleh para ahli di atas, pengertian dari Joseph A. Devito adalah yang paling lengkap dan luas. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa komunikasi adalah suatu proses penyampaian pesan dari satu pihak (individu atau kelompok) kepada pihak lain (individu atau kelompok), melalui saluran tertentu ataupun tidak sehingga menimbulkan pengertian bersama untuk mencapai tujuan tertentu.
Adapun makna komunikasi yang tercermin dari definisi atau pengertian komunikasi tersebut dapat dibedakan menjadi 4 bagian, yaitu :
Komunikasi sebagai proses social. Komunikasi adalah proses sosial yang fundamental. Oleh sebab itu, ketika kita mempelajari komunikasi sejatinya kita mencoba untuk meneliti lebih dalam mengenai sesuatu yang menjadi pondasi bagi semua hubungan antar manusia serta perubahan sosial (Kincaid dan Scramm dalam Suryana, 2004). Berbagai penelitian telah dilakukan oleh para ahli dengan fokus penelitian pada aktifitas manusia serta hubungan pesan dengan perilaku.
Komunikasi sebagai peristiwa. Ketika manusia berinteraksi dengan manusia lainnya, maka terjadilah suatu peristiwa. Peristiwa tersebut dinamakan peristiwa sosial. Interaksi sosial dapat terjadi hanya jika ada kontak dan komunikasi. Sebagai suatu fenomena, komunikasi dapat dipahami melalui bentuk komunikasi dan sifat komunikasi. Bentuk komunikasi meliputi komunikasi personal (komunikasi intrapersonal dan komunikasi interpersonal), komunikasi kelompok (komunikasi kelompok kecil dan komunikasi kelompok besar), serta komunikasi massa. Sedangkan sifat komunikasi meliputi komunikasi tatap muka (face to face), komunikasi bermedia (mediated), verbal (tulisan, lisan, tercetak) dan non-verbal (kial, bergambar).
Komunikasi sebagai ilmu. Komunikasi adalah ilmu (science) karena ilmu komunikasi berkembang dengan menggunakan metode ilmiah. Para ilmuwan yang mengembangkan komunikasi sebagai ilmu menggunakan pendekatan ilmiah berdasarkan latar belakang keilmuan yang dimiliki. Dalam bekerjanya, ilmu komunikasi selalui berlandaskan pada fakta, pertimbangan obyektif, asas analitik, sifat kuantitatif, logika deduktif-hipotetik dan logika induktif-generalisasi. Selain berkembang dengan menggunakan metode ilmiah, komunikasi juga memenuhi persyaratan sebagai suatu ilmu. Adapun syarat-syarat suatu ilmu adalah memiliki obyek formal dan obyek material yaitu memiliki bentuk pernyataan dan memiliki keragaman proposisi. Sebagai suatu ilmu, komunikasi memiliki beberapa karakteristik, yaitu sistematis, universal, rasionalitas, obyektifitas, verifiabilitas dan communality.
Komunikasi sebagai keterampilan. Komunikasi sebagai suatu proses penyampaian pesan tentunya memiliki tujuan. Tujuan komunikasi pada umumnya adalah untuk mengubah pengetahuan, sikap, opini, keterampikan serta perilaku. Agar terjadi komunkasi yang efektif maka komunikator harus memiliki kemampuan atau keterampilan berkomunikasi yang diperlukan. Tidak hanya bahasa verbal namun bahasa non verbal pun harus dikuasai. Kemampuan berkomunikasi atau communication skill sangat penting dalam rangka berinteraksi dengan orang lain. Keterampilan berkomunikasi dapat membantu kita untuk meningkatkan kemampuan dalam berpikir kritis, melakukan pemecahan masalah, mengatasi konflik, membangun sebuah tim, literasi media, dan public speaking. Berbagai macam kemampuan atau keterampilan komunikasi inilah yang sangat berguna dalam rangka berinteraksi dengan orang lain maupun dalam dunia kerja.
Karakteristik Komunikasi
Dari berbagai pengertian komunikasi yang telah disebutkan pada bagian sebelumnya, dapat ditarik benang merah berupa karakteristik yang melekat pada komunikasi itu sendiri. Secara garis besar, komunikasi memiliki tiga karakteristik utama, yaitu :
• Komunikasi adalah manusia itu sendiri. Istilah komunikasi yang digunakan selama ini merujuk pada komunikasi yang dilakukan oleh manusia. Dalam suatu proses komunikasi, yang menjadi komunikator (pengirim pesan) dan komunikan (penerima pesan) adalah manusia.
• Komunikasi adalah sebuah proses. Komunikasi merupakan proses yang berlangsung secara terus menerus dan berkesinambungan. Komunikasi merupakan proses transaksional yang terjadi antara komunikator (pengirim pesan) dan komunikan (penerima pesan). Kualitas proses komunikasi tergantung pada partisipan yang terlibat di dalamnya termasuk saluran yang digunakan.
• Komunikasi bersifat simbolis. Lambang biasa digunakan untuk mempresentasikan sesuatu, berbagai proses, berbagai ide, atau pun berbagai kejadian yang dapat membuat komunikasi menjadi mungkin. Lambang yang diolah menjadi informasi adalah yang dikirimkan dalam suatu proses komunikasi. Berhasil tidaknya informasi yang disampaikan tergantung pada komunikator (pengirim pesan) dan komunikan (penerima pesan).
Fungsi Komunikasi
Komunikasi merupakan proses penyampaian pesan dari komunikator yang bertujuan untuk mengubah pengetahuan, sikap, opini, keterampilan dan perilaku komunikan. Komunikasi dapat dikatakan berhasil apabila dampak yang terjadi pada komunikan sesuai dengan tujuan komunikasi yang diinginkan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa komunikasi memiliki fungsi-fungsi yang berguna untuk menunjang tujuan komunikasi. Secara umum, komunikasi memiliki beberapa fungsi, diantaranya adalah :
1. Menyiarkan informasi: Komunikasi berfungsi untuk menyiarkan informasi yang dibutuhkan oleh komunikan dengan harapan komunikan dapat mengambil keputusan yang tepat setelah menerima informasi yang disampaikan.
2. Mendidik: Komunikasi berfungsi mendidik apabila pesan yang diterima oleh komunikan berdampak pada peningkatan pengetahuan komunikan.
3. Menghibur: Komunikasi berfungsi menghibur manakala pesan yang disampaikan kepada komunikan ditujukan untuk rekreasi atau kesenangan bagi komunikan.
4. Mempengaruhi: Komunikasi berfungsi mempengaruhi komunikan manakala pesan yang disampaikan kepada komunikan memberikan efek yang diharapkan.
Psikologi Komunikasi Menurut Para Ahli
Komunikasi adalah proses penyampaian pesan yang bertujuan untuk membentuk kesamaan makna. Komunikasi dapat tumbuh dan berkembang karena disokong oleh berbagai disiplin ilmu seperti psikologi, sosiologi, politik, ekonomi, mekanika dan lain sebagainya. Interaksi sosial dapat terjadi karena adanya kontak dan komunikasi. Dapat dikatakan bahwa komunikasi adalah peristiwa sosial. Suatu peristiwa sosial yang coba dianalisis dengan menggunakan pendekatan psikologis akan menuntun kita pada pendekatan psikologi sosial. Psikologi komunikasi adalah bagian dari psikologi sosial. Dengan demikian, pendekatan psikologi sosial adalah juga pendekatan psikologi komunikasi. Berikut adalah beberapa pengertian psikologi komunikasi (Rakhmat : 2001 : 9-10) :
1. George A. Miller (1974) : Psychology is the science that attempts to describe, predict, and control mental and behavioral events. Psikologi adalah ilmu yang mencoba mengguraikan, memperkirakan, dan mengendalikan peristiwa-peristiwa terkait kejiawaan dan perilaku.
2. E.A Ross : Psikologi sosial adalah ilmu yang berusaha memahami dan menguraikan keseragaman dalam perasaan, kepercayaan, atau kemauan dan tindakan yang diakibatkan oleh interaksi sosial.
3. Kauffman (1973) : Social psychology is an attempt to understand, explain and explain, and predict how the thoughts, feelings and actions of individuals are influenced by the perceived thoughts, feelings, and actions of others (whose presence may be actual, imagined, or implied). Psikologi social adalah suatu pendekatan untuk memahami, menjelaskan dan memperkirakan bagaimana suatu pemikiran, perasaan dan sikap individu dipengaruhi oleh persepsi pemikiran, perasaan dan sikap orang lain (yang menyaksikan baik secara langsung, tidak langsung ataupun sekedar membayangkannya).
Teori Psikologi Komunikasi
Psikologi telah lama menelaah efek media massa pada perilaku komunikan. Sistem komunikasi massa mempunyai karakteristik psikologis yang khas. Hal ini terlihat dalam pengendalian arus informasi. Kemudian adanya umpan balik, stimulasi alat indera, dan proporsi unsur isi dengan hubungan. Berikut adalah beberapa teori komunikasi yang mencoba untuk melihat efek komunikasi terhadap bertambahnya pengetahuan dan mempengaruhi sikap khalayak.
1. Teori Kultivasi (Cultivation Theory)
Teori yang dicetuskan oleh George Gerbner ini mengasumsikan bahwa media massa, (pada saat dicetuskan yang dimaksudkan adalah terutama televisi, namun saat ini lebih bergeser pada media social) merupakan media yang paling ampuh untuk menanamkan ideologi kepada khalayak. Teori kultivasi adalah teori yang berusaha untuk melakukan analisa terhadap akibat yang ditimbulkan dari penanaman ideologi ini. Gerbner mencoba untuk mengembangkan konsep “mainstreaming” atau mengikuti arus. Hal ini dimaksudkan sebagai kesamaan diantara pemirsa berat pada berbagai kelompok demografis, dan perbedaan dari kesamaan itu pada pemirsa ringan (Rakhmat, 2001 : 250).
2. Teori Spiral Keheningan (The Spiral of Silence Theory)
Pertama kali digagas oleh Elisabeth Noelle-Neumann (1974). Spiral keheningan adalah istilah digunakan merujuk pada kecenderungan manusia untuk tetap diam. kecenderungan ini terlihat ketika mereka merasa bahwa pandangan mereka bertentangan dengan pandangan mayoritas.
Teori ini berpendapat bahwa mereka tetap diam karena terisolasi serta mendapat konsekuensi negatif. Konsekuensi ini datang dari kelompok atau masyarakat karena menyuarakan pendapat yang berbeda. Dalam teori ini juga dijelaskan bahwa saat manusia mengemukakan pendapat, mereka berusaha mengikuti pendapat mayoritas atau konsensus. Media merupakan sumber informasi utama yang dapat membuat terjadinya konsensus. Apabila pendapat versi konsensus ini begitu massif tersebar dalam masyarakat melalui media massa, maka suara perorangan yang memiliki pendapat yang berbeda akan semakin diam.
3. Agenda Setting Theory
Pendekatan agenda setting dikembangkan oleh Maxwell E. Comb dan Donald E. Shaw. Fokus agenda setting adalah efek media massa terhadap pengetahuan. Menurut pendekatan ini, media massa memiliki pengaruh terhadap apa yang dipikirkan orang.
Kemudian disimpulkan bahwa media massa memilih informasi yang diinginkan serta dianggap penting untuk mempengaruhi khalayak tentang informasi. Tujuannya adalah pembentukan persepsi oleh khalayak berdasarkan informasi yang diterima tentang suatu peristiwa.
4. Teori Peluru atau model jarum hipodermik (Bullet Theory)
Penggagas teori ini adalah Melvin DeFleur. Menurut teori ini, media menyajikan stimuli perkasa yang secara seragam diperhatikan oleh massa (DeFleur dalam Rakhmat, 2001 : 197). Teori ini mengasumsikan bahwa massa tidak memiliki kekuatan dalam menghadapi stimuli yang dikirim oleh media massa.
Teori ini dikenal dengan sebutan “teori peluru” atau model jamum hipodermis. Teori ini menganalogikan pesan komunikasi seperti obat yang disuntikkan dengan jarum ke bawah kulit pasien. Teori ini disebut juga dengan “the concept of powerful mass media” oleh Elisabeth Noelle-Neumann (1973).
Teori ini menunjukkan kekuatan media massa untuk mengarahkan dan membentuk perilaku khalayak. Dalam kerangka behaviorisme, media massa adalah factor lingkungan yang mengubah perilaku khalayak melalui proses pelaziman klasik, operan, atau imitasi. Khalayak diangap sebagai kepala kosong yang siap menampung pesan komunikasi yang dicurahkan kepadanya.
5. Teori Kegunaan dan Kepuasan (Uses and Gratifications Theory)
Pendekatan uses and gratification diungkapkan pertama kali oleh Elihu Katz. Pendekatan ini berpandangan bahwa khalayak sebagai komunikan berpartisipasi aktif sebagai bagian dari sistem komunikasi massa. partisipasi aktif dimaksudkan dalam menggunakan media untuk memenuhi kebutuhannya. Dengan demikian, efek media massa diartikan sebagai situasi ketika kebutuhan tersebut terpenuhi.
Faktor-faktor personal juga mempengaruhi reaksi khalayak pada komunikasi massa. Faktor tersebut meliputi organisasi personal dari sisi psikologis individu diantaranya potensi biologis, nilai, kepercayaan, sikap, serta bidang pengalaman. Dan lainnya adalah kelompok-kelompok sosial dimana individu menjadi anggota juga hubungan-hubungan interpersonal pada proses penerimaan, pengelolaan, dan penyampaian informasi.
Ruang Lingkup Psikologi Komunikasi
Dalam psikologi, komunikasi memiliki makna yang luas yang mencakup penyampaian energi, gelombang suara, tanda di antara tempat, sistem atau organisme. Intinya, psikologi menyebut komunikasi pada penyampaian energi dari alat indera ke otak, peristiwa penerimaan dan pengolahan informasi, proses saling pengaruh di antara berbagai kinerja dalam diri organisme dan di antara organisme.
Psikologi tidak membicarakan komunikasi secara umum, melainkan membahas karakteristik manusia dan aspek biologis dalam diri manusia yang melakukan komunikasi. Psikologi memeriksa seluruh komponen yang terlibat dalam proses komunikasi. Di antaranya komunikator, pesan, penerimaan dan pengolahan pesan. Dan juga komunikan yang mencakup karakteristik manusia komunikan dan media komunikasi.
Psikologi sebagai ilmu yang mempelajari komunikasi, memiliki beberapa ciri khas pendekatan yang berbeda dengan disiplin ilmu yang juga mempelajari komunikasi. Fisher (1978) dalam Rakhmat (2001 : 9) menguraikan 4 ciri pendekatan psikologi komunikasi, yaitu :
1. Penerimaan stimuli secara inderawi atau sensory reception of stimuli – Psikologi melihat komunikasi diawali dengan penerimaan data oleh indera – indera manusia.
2. Proses Stimuli atau internal mediation of stimuli – Stimuli yang mempengaruhi kita kemudian diolah dalam jiwa.
3. Prediksi Respon atau prediction of response – Psikologi komunikasi menelaah bagaimana pengalaman yang terjadi pada masa lalu dapat mempengaruhi respon yang akan datang. Dari sinilah timbul pengaruh dari kenangan dan pengalaman yang merupakan jembatan antara masa lalu dan sekarang. Salah satu unsur sejarah respon adalah peneguhan.
4. Peneguhan Respon atau reinforcement of reponses – Peneguhan adalah respon lingkungan atau orang lain pada respon organisme yang asli. Peneguhan inilah yang disebut dengan feedback atau umpan balik oleh Bergera dan Lambert.
Bentuk Komunikasi
Ilmu komunikasi adalah ilmu terapan. Sadar atau tidak, manusia selalu berkomunikasi dalam setiap aspek kehidupannya. Dalam pengantar ilmu komunikasi, digambarkan secara lebih sederhana mengenai bentuk-bentuk komunikasi yang telah kita kenal selama ini. Namun, bentuk komunikasi yang digambarkan berikut ini tidak merujuk ke sana. Bentuk komunikasi berikut menekankan pada konteks psikologi dalam suatu proses komunikasi.
Hal ini karena berbagai penelitian psikologi dan komunikasi yang telah dilakukan memperlihatkan adanya keterkaitan di antara keduanya. Hal ini merujuk adanya kesamaan pada tiga macam bentuk proses komunikasi dalam konteks kerangka bangunan kognitif manusia. Ketiga bentuk proses komunikasi tersebut adalah :
1. Interaksi Interpersonal Tatap Muka (face to face interpersonal interaction)
Dalam suatu komunikasi interpersonal terjadi pertukaran informasi baik verbal maupun non verbal. Proses pertukaran informasi yang dilakukan melalalui interaksi sosial melalui verbal maupun non verbal telah menjadi fokus penelitian komunikasi sejak tahun 1950. Salah satu ilmuwan yang meneliti mengenai hal ini adalah Adam Kendon (1970) melalui teori adalah interactional synchrony.
Gagasan teori ini adalah bahwa perilaku verbal dan nonverbal yang rumit terikat satu sama lain baik dalam diri individu tersebut maupun individu lainnya. Intinya, kerangka psikologi beserta modelnya telah memungkinkan peneliti komunikasi untuk menghasilkan gambaran yang rinci mengenai dan membentuk suatu prediksi yang lebih spesifik bagaimana manusia melakukan pertukaran informasi baik verbal maupun non verbal dengan manusia yang lain.
2. Interaksi Interpersonal Bermedia
Ketika sekelompok kecil orang berinteraksi satu sama lain secara real time dengan menggunakan berbagai jenis media (misalnya, telepon, komputer, dan video conferencing), terjadi proses interaksi tatap muka. Kemudian interaksi tersebut digabungkan dengan berbagai faktor yang rumit dan unik. Contoh penelitian mengenai hal ini adalah computer-mediated communication (CMC) di mana dua orang menggunakan teknologi berbasis komputer untuk melakukan interaksi. Dasar teori ini adalah face to face communication.
Ketika orang menggunakan media untuk melakukan interaksi interpersonal, mereka menggabungkan proses yang terjadi dalam interaksi interpersonal secara langsung dengan memanfaatkan berbagai macam perangkat teknologi. Dengan demikian, model aditif pengolahan psikologis dapat bekerja sebagai kerangka kerja untuk dapat memahami bentuk komunikasi interpersonal bermedia.
3. Komunikasi massa
Komunikasi massa adalah proses penyebaran informasi yang dilakukan oleh organisasi (surat kabar, film, tv atau soc-med) dengan menggunakan teknologi media tertentu. Dengan semakin berkembangnya teknologi digital, jarak antara organisasi besar dan khalayak yang luas semakin kecil. Kini, semua orang dapat terlibat dalam proses komunikasi massa, misalnya dengan adanya konsep citizen journalism. Teknologi komunikasi telah mengubah cara pandang kita terhadap komunikasi secara umum seperti dialog, diseminasi, dan kombinasi keduanya.
Dari perspektif proses psikologis, salah satu pendekatan komunikasi massa adalah kombinasi antara tatap muka dan interaksi intrepersonal bermedia. Bukti nyata dari fenomena ini adalah lahirnya teori kultivasi yang dicetus oleh George Gerbner. Teori kultivasi sebagaimana telah diuraikan sebelumnya mengilustrasikan aspek-aspek proses psikologi ke dalam komunikasi.
Tingkatan Proses Komunikasi
Menurut Dennis McQuail dalam bukunya Teori Komunikasi Massa (1987 : 6-7), tingkatan proses komunikasi merujuk pada tingkatan organisasi sosial dimana komunikasi tersebut terjadi. Setiap tingkatan meliputi berbagai permasalahan, serangkaian kenyataan dan teori masing-masing. Dalam masyarakat, terdapat enam tingkatan proses komunikasi, yaitu :
• Intrapersonal. Komunikasi intrapersonal atau dalam diri pribadi atau self-communication adalah proses pengolahan informasi yang meliputi sensasi, persepsi, memori dan berpikir. Dalam proses komunikasi intrapersonal, rangsangan yang berupa informasi diterima, diolah, disimpan, dan dihasilkan kembali. Proses pengolahan informasi ini dapat berdampak pada pengetahuan, pendapat maupun sikap.
• Interpersonal. Pada komunikasi interpersonal (antar orang), fokus perhatian sebagian besar ditujukan pada bentuk wacana, pola interaksi, wujud afiliasi, pengendalian dan hierarki, penentuan norma-norma, penetapan batas, pengaruh dan difusi. proses informasi dan pada hubungan timbal balik dengan lingkungan.
• Intragroup. Yang menjadi fokus perhatian komunikasi intragroup (antar orang dalam kelompok tertentu) sama dengan komunikasi interpersonal yaitu pada bentuk wacana, pola interaksi, wujud afiliasi, pengendalian dan hierarki, penentuan norma-norma, penetapan batas, pengaruh dan difusi. proses informasi dan pada hubungan timbal balik dengan lingkungan.
• Intergroup. Pada komunikasi intergroup (antar kelompok), fokus perhatian dititikberakan pada keterlibatan secara sukarela, interaksi, kerjasama dan pembetukan norma-norma serta standar.
• Organisasi /Institusi. Pada komunikasi organisasi fokus perhatian dititikberatkan pada usaha mengendalikan dan melakukan efisiensi transmisi. adalah komunikasi yang terjadi di dalam suatu organisasi.
• Komunikasi Massa. Komunikasi massa merupakan salah satu proses komunikasi yang lebih luas. Komunikasi massa dapat diidentifikasi melalui karakteristik yang khas dari institusionalnya.
ARTI PENTINGNYA PSIKOLOGI KOMUNIKASI BAGI UNIT-UNIT LAYANAN INFORMASI DJBC
Apabila individu-individu berinteraksi dan saling mempengaruhi, maka terjadi beberapa hal yaitu proses belajar (meliputi aspek kognitif dan afektif), proses penyampaian serta penerimaan lambang-lambang. Kemudian, adanya mekanisme penyesuaian diri seperti sosialisasi, permainan peranan, identifikasi, proyeksi, agresi, dan lain sebagainya.
Komunikasi berperan dalam membentuk kepribadian kita. Hubungan dengan orang lain akan mempengaruhi kualitas hidup kita. Bila pesan yang kita sampaikan tidak dipahami dengan baik oleh orang lain, maka dapat dikatakan komunikasi yang kita lakukan mengalami kegagalan atau tidak efektif. Stewart L. Tubs dan Sylvia Moss (1974) dalam Rakhmat (2001 : 13) menyatakan bahwa komunikasi yang efektif paling tidak menimbulkan 5 hal, yaitu : pengertian, kesenangan, pengaruh pada sikap, hubungan yang makin baik, dan tindakan.
• Pengertian – Penerimaan yang tepat dari konten stimuli seperti yang disampaikan oleh komunikator.
• Kesenangan – Komunikasi yang dilakukan untuk menimbulkan kesenangan atau phatic communication.
• Mempengaruhi sikap – Komunikasi ditujukan untuk mempengaruhi orang lain. Salah satu cara agar kita dapat mempengaruhi sikap orang lain adalah dengan menggunakan komunikasi persuasif. Komunikasi persuasif memerlukan pemahaman tentang psikologi komunikator, psikologi pesan, dan psikologi komunikan.
• Hubungan sosial yang baik – Komunikasi bertujuan untuk mempererat hubungan sosial yang baik. Sebagai makhluk sosial, kebutuhan sosial menjadi kebutuhan yang paling utama manusia. Kebutuhan sosial adalah kebutuhan untuk menumbuhkan dan mempertahankan hubungan yang memuaskan dengan orang lain dalam hal interaksi dan asosiasi, pengendalian dan kekuasaan, dan cinta dan kasih sayang (William Schutz, 1966 dalam Rakhmat, 2001 : 14)
• Tindakan – Persuasi ditujukan untuk mengeluarkan tindakan yang diinginkan. Efektivitas komunikasi diukur dari tindakan nyata yang dilakukan oleh komunikan.
Manfaat Mempelajari Psikologi Komunikasi
Komunikasi yang efektif dapat membantu kita untuk mengatasi permasalahan yang kita hadapi dalam kehidupan profesional dan memperbaiki hubungan antar manusia. Para ahli meyakini bahwa akar dari berbagai permasalahan yang ada dalam kehidupan kita adalah karena buruknya komunikasi. Komunikasi yang efektif adalah solusi untuk mengatasi berbagai permasalahan tersebut dan bahkan dapat mencegah permasalahan yang timbul. Untuk itu, kita sangat perlu mempelajari komunikasi secara komprehensif karena sangat bermanfaat bagi kehidupan kita.
Psikologi komunikasi merupakan ilmu yang wajib dikuasai dan dipahami oleh mereka yang mempelajari ilmu komunikasi. Komunikasi sebagai sebuah proses melibatkan beberapa komponen. Di sinilah psikologi komunikasi hadir mencoba menganalisa seluruh komponen yang terlibat dalam proses komunikasi, yaitu komunikator, pesan, penerimaan dan pengolahan pesan, komunikan yang mencakup karakteristik manusia komunikan dan media komunikasi.
Person, et.al dalam bukunya Human Communication (2000) menyatakan, setidaknya terdapat 7 (tujuh) manfaat yang akan kita peroleh dengan mempelajari komunikasi, yaitu :
1. Memperbaiki cara pandang terhadap diri sendiri.
Mempelajari komunikasi membuat kita belajar untuk lebih mengenal diri sendiri. Proses pembelajaran ini dapat kita peroleh melalui komunikasi intrapersonal maupun berinteraksi dengan orang lain. Dengan mengetahui bagaimana komunikasi memberikan efek terhadap persepsi mengenai diri sendiri, dapat menuntun kita untuk lebih bisa menghargai diri sendiri.
Selain itu, mempelajari keterampilan berkomunikasi juga dapat memperbaiki cara pandang kita terhadap diri kita sendiri. Berbagai studi menunjukkan bahwa komunikasi yang secara efektif dilakukan dalam berbagai situasi dapat membantu pembentukan kepercayaan diri.
Dengan kata lain, keberhasilan kita dalam melakukan interaksi dengan oran lain dalam berbagai situasi sosial dan pencapaian kita dalam dunia professional akan dapat menuntun kita pada perasaan yang positif terhadap diri sendiri.
2. Memperbaiki cara pandang orang lain terhadap diri
Pada umumnya, setiap orang lebih menyukai berkomunikasi dengan orang lain yang dapat juga berkomunikasi dengan baik. Apabila kita berkomunikasi dengan orang yang memiliki kompetensi, maka kita juga akan tergerak untuk meningkatkan kompetensi yang dimiliki. Semakin kita dipandang memiliki kompetensi yang mumpuni, maka orang lain pun akan datang untuk berinteraksi dengan kita.
3. Meningkatkan pengetahuan mengenai hubungan antar manusia
Komunikasi tidak hanya mempelajari tentang bagaimana cara berkomunikasi dengan orang lain, tetapi juga tentang bagaimana kita membangun hubungan dengan orang lain dan jenis komunikasi yang sesuai dengan situasi yang ada. Melalui hubungan antar manusia seperti pertemanan, hubungan keluarga, dan hubungan dalam suatu komunitas, kita belajar tentang kepercayaan, kedekatan, dan hubungan timbal-balik.
4. Mengajarkan keterampilan yang penting dalam kehidupan
Mempelajari komunikasi adalah mempelajari berbagai macam keterampilan yang akan digunakan oleh setiap orang dalam satu fase dalam kehidupannya. Keterampilan itu adalah kemampuan dalam berpikir kritis, kemampuan dalam melakukan pemecahan masalah, kemampuan dalam mengatasi konflik, kemampuan dalam membangun sebuah tim, kemampuan dalam literasi media, dan public speaking.
5. Membantu kita untuk melatih kebebasan berpendapat yang dijamin konstitusi
Di beberapa negara demokrasi, tak terkecuali Indonesia, kebebasan memperoleh informasi, kebebasan berpendapat dan kebebasan berbicara di depan umum dijamin dan diatur oleh konstitusi. Dengan derasnya arus informasi yang ada, kita dapat mengetahui berbagai macam isu hangat yang sedang terjadi dan kita dapat membahasnya dengan orang lain. Tidak hanya itu, kita juga dapat mendiskusikannya dalam suatu forum terbuka atau pun melalui media massa. Kita juga dapat mengkritisi berbagai informasi atau pesan yang kita peroleh dari orang lain.
6. Membantu kita meraih kesuksesan secara professional
Sebagai seorang yang berlatar belakang pendidikan komunikasi, kita akan dapat meraih berbagai macam pekerjaan yang diinginkan. Beberapa profesi memerlukan keterampilan berkomunikasi misalnya public relation (oral communication).
7. Membantu kita untuk meningkatkan kemampuan berbahasa
Mempelajari bahasa asing atau bahasa daerah lokal dapat membantu kita berkomunikasi dengan orang lain yang berbeda bahasa dan budaya. Apabila hal ini ditopang dengan pemahaman konsep-konsep komunikasi dasar dan menerapkannya dalam interaksi kita dengan orang lain yang berbeda bahasa dan budaya, maka kemampuan berbahasa kita dengan sendirinya dapat berkembang.
Sedangkan dengan memahami psikologi komunikasi, diharapkan dapat memperoleh berbagai manfaat, diantaranya :
• Membantu menjadi komunikator yang memiliki kredibilitas.
• Membantu menyampaikan pesan yang akurat.
• Membantu memilih media yang tepat untuk menyampaikan pesan sesuai dengan konteks komunikasi.
• Membantu untuk memahami komunikan dengan memperhatikan keanggotaan kelompok, proses seleksi, dan kecenderungan.
Manfaat Psikologi Komunikasi bagi Pelaksanaan Tugas dan Fungsi Layanan Informasi DJBC
Tugas dan Fungsi unit Layanan Informasi sesuai yang diamanatkan dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 234/PMK.01/2015 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Keuangan, untuk unit yang berada di Kantor Pusat DJBC, yaitu Subdirektorat Penyuluhan dan Layanan Informasi, diuraikan pada Pasal 809 tugasnya adalah sebagai berikut:
“Subdirektorat Penyuluhan dan Layanan Informasi mempunyai tugas melaksanakan penyiapan penyusunan rumusan kebijakan, standardisasi dan bimbingan teknis, evaluasi dan pelaksanaan di bidang penyampaian informasi kepabeanan dan cukai dalam rangka peningkatan kualitas pelayanan dengan memanfaatkan teknologi komunikasi dan informasi berdasarkan peraturan perundang-undangan.”
Selanjutnya dalam Pasal 810 diuraikan lebih lanjut fungsinya sebagai berikut:
“Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 809, Subdirektorat Penyuluhan dan Layanan Informasi menyelenggarakan fungsi:
a. Penyiapan bahan penyusunan rumusan kebijakan, standardisasi dan bimbingan teknis, evaluasi dan pelaksanaan penyuluhan dan pemberian layanan informasi di bidang kepabeanan dan cukai, serta menyelenggarakan desk informasi dan saluran komunikasi (contact center);
b. Penyiapan bahan penyusunan rumusan kebijakan, standardisasi dan bimbingan teknis, evaluasi dan pelaksanaan pengelolaan informasi publik dalam rangka pelaksanaan undang-undang keterbukaan informasi publik; dan
c. Penyiapan bahan penyusunan rumusan kebijakan, standardisasi dan bimbingan teknis, evaluasi dan pelaksanaan pemberian edukasi masyarakat terkait tugas dan fungsi kinerja Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.
Adapun salah satu seksi di bawah Subdirektorat ini adalah Seksi Layanan Informasi yang menurut Pasal 812 angka (2) tugasnya adalah: melakukan penyiapan bahan penyusunan rumusan kebijakan, standardisasi dan bimbingan teknis, evaluasi, dan pelaksanaan penyampaian informasi di bidang kepabeanan dan cukai kepada pengguna layanan melalui saluran komunikasi (contact center) dan pengelolaan informasi publik.
Berdasarkan Surat Edaran Nomor SE-15/BC/2018 tentang Pedoman Penyelenggaraan Kegiatan Kehumasan, Publikasi, dan Dokumentasi di Lingkungan DJBC, diatur sebagai berikut:
• Di tingkat Kantor Wilayah, kewenangan penyelenggaraan kehumasan dan publikasi berada pada Bidang Fasilitas Kepabeanan dan Cukai, sedangkan di Kantor Wilayah Khusus kewenangannya berada pada Bagian Umum.
• Di tingkat Kantor Pelayanan Utama Tipe A dan Tipe B kewenangan penyelenggaraan kehumasan dan publikasi berada pada Bidang Bimbingan Kepatuhan dan Layanan Informasi, sedangkan untukTipe C berada pada Bidang Kepatuhan Internal dan Layanan Informasi.
• Di tingkat Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Tipe Madya Pabean, Tipe Madya Cukai, Tipe Madya Pabean A dan Tipe Madya Pabean B kewenangannya berada pada Seksi Penyuluhan dan Layanan Informasi sedangkan di Tipe Madya Pabean C oleh Seksi Kepatuhan Internal dan Penyuluhan.
• Untuk instansi vertikal Balai Laboratorium Bea dan Cukai (BLBC) serta Pangkalan Sarana Operasi (PSO) Bea dan Cukai kewenangannya dilakukan dan dikoordinasikan oleh Subbagian Umum dan Kepatuhan Internal.
Di semua tingkat kewenangan tersebut, dalam hal dipandang perlu, diselenggarakan dengan melakukan koordinasi bersama Direktorat Kepabeanan Internasional dan Antar Lembaga.
Berdasarkan uraian tugas dan fungsi sebagaimana tersebut di atas, yang menyebutkan adanya unsur penyampaian informasi, penggunaan teknologi komunikasi dan informasi, penyelenggaraan desk informasi dan call center, pengelolaan informasi publik, pemberian edukasi masyarakat, dan koordinasi, maka untuk kesemua hal tersebut amatlah dibutuhkan dukungan kompentensi (pengetahuan, keterampilan dan sikap kerja) yang terkait dengan hal-hal mengenai Psikologi Komunikasi sebagaimana yang telah dipaparkan sebelumnya dan akan dibahas lebih lanjut dalam modul-modul dan mata pelajaran-mata pelajaran berikutnya.
Demikianlah pengantar psikologi komunikasi yang dirangkum dari beberapa sumber. Semoga dengan mempelajari materi psikologi komunikasi ini, Anda dan siapa saja yang mengemban tugas dan fungsi dalam unit Layanan Informasi dapat memperkaya wawasan tentang ilmu komunikasi sebagai bekal pelaksanaan tugas sekaligus peningkatan kompetensi yang diperlukan dalam pelaksanaan tugas dimaksud.